A.
Empowerment
Empowerment adalah
upaya mengaktualisasikan potensi yang sudah dimiliki oleh masyarakat.
Pendekatan pemberdayaan masyarakat yang demikian tentunya diharapkan memberikan
peranan kepada individu bukan sebagai obyek, tetapi sebagai pelaku atau aktor
yang menentukan hidup mereka sendiri.
Secara umum
pemberdayaan didefinisikan sebagai suatu proses sosial multi-dimensional yang
membantu penduduk untuk mengawasi kehidupannya sendiri. Pemberdayaan itu
merupakan suatu proses yang memupuk kekuasaan (yaitu, kemampuan
mengimplementasikan) pada individu, untuk penggunaan bagi kehidupan mereka
sendiri, komunitas mereka, dengan berbuat mengenai norma - norma yang mereka
tentukan. (Page & Czuba, 1999:3).
B.
Stress
Stress
adalah respon psikologis dari tubuh terhadap tekanan yang diterimanya,
khususnya berbagai kejadian yang mengancam, menantang, atau mengandung unsur
perubahan. Ketika tuntutan yang dibebankan pada seseorang berlebihan atau
melebihi kemampuan yang dimiliki maka akan membuat seseorang tersebut berada
dibawah stres yang berlebihan. (Brealey, 2002)
-
Sumber Stress
Menurut Cary
Cooper (Rini, 2002) sumber stres ada lima yaitu sebagai berikut
ü Kondisi
Pekerjaan.
ü Lingkungan.
ü Deprivational
stress.
ü Pekerjaan
beresiko tinggi.
ü Konflik
Peran.
C.
Konflik
konflik
merupakan kondisi terjadinya ketidakcocokan antar nilai atau tujuan-tujuan yang
ingin dicapai, baik yang ada dalam diri individu maupun dalam hubungannya
dengan orang lain. Kondisi yang telah dikemukakan tersebut dapat mengganggu
bahkan menghambat tercapainya emosi atau stres yang mempengaruhi efisiensi.
(Killman & Thomas 1978)
-
Jenis-Jenis Konflik
ü Konflik
Intra Individu
Konflik ini
dialami oleh individu dengan dirinya sendiri karena adanya tekanan peran dan
ekpektasi di luar berbeda dengan keinginan dan harapannya
ü Konflik
Antar Individu
Konflik yang
terjadi antar individu yang berada dalam suatu kelompok atau antarindividu pada
kelompok yang berbeda
ü Konflik
Antar Kelompok
Konflik yang
bersifat kolektif antara satu kelompok dengan kelompok yang berbeda
ü Konflik
Organisasi
Konflik yang
terjadi antara unit organisasi yang bersifat struktural maupun fungsional
-
Proses Konflik
Menurut Pondi,
Proses terjadinya konflik sebagai berikut:
ü Konflik Laten
(Latent Conflict), konflik Laten merupakan tahap dari munculnya faktor-faktor
penyebab konflik dalam organisasi. Bentuk-bentuk dasar dari situasi ini ialah
persaingan untuk memperebutkan sumberdaya yang terbatas, konflik peran,
persaingan perebutan posisi di dalam organisasi
ü Konflik Yang
Dipersepsikan (Perceived Conflict), pada tahap ini salah satu pihak memandang
pihak lain sebagai penghambat atau mengancam pencapaian tujuannya.
ü Konflik Yang
Dimanifestasikan (Manifest Conflict), pada tahap ini perilaku tertentu sebagai
indikator konflik sudah mulai ditunjukkan, seperti adanya sabotase, agresi
terbuka, konfrontasi, rendahnya kinerja dan lain sebagainya.
ü Resolusi
Konflik (Conflict Resolution), pada tahap ini konflik yang terjadi diselesaikan
dengan berbagai macam cara dan pendekatan.
ü Konflik
Aftermath, jika konflik sudah benar-benar diselesaikan maka hal itu akan
meningkatkan hubungan para anggota organisasi. Hanya saja jika penyelesaian
konflik tidak tepat, maka akan dapat menimbulkan konflik yang baru.
D.
Kasus
-
Stress
Li Yuan
Li Yuan
adalah seorang karyawan yang bekerja di bidang periklanan di China. Di usianya
yang ke-24, Yuan diketahui meninggal pada bulan Mei 2013. Sebulan sebelumnya,
Yuan diketahui seringkali bekerja terlalu keras dan tanpa henti. Dia seringkali
bekerja lembur hingga pukul 11 malam di perusahaannya Ogilvy & Mather
China.
Pada hari
Senin pukul lima sore, Yuan tiba-tiba saja berdiri dan mengeluhkan sakit pada
bagian dadanya. Setelahnya dia jatuh tak sadarkan diri. Yuan segera dilarikan
ke rumah sakit, namun sudah terlambat. Dokter menjelaskan bahwa dia meninggal
akibat serangan jantung.
Diketahui
bahwa China memang memiliki angka yang cukup tinggi, bahkan mengalahkan Jepang,
untuk jumlah karyawan yang meninggal akibat pekerjaan. sekitar 600.000 karyawan
di China meninggal akibat ‘kelelahan’ setiap tahunnya, seperti dilansir oleh
The China Youth Daily. Kebanyakan penyebabnya berkaitan dengan stres, stroke,
dan serangan jantung. Beberapa gejala yang dialami adalah insomnia, anoreksia,
serta rasa sakit pada dada.
Solusinya:
Kementerian
Tenagakerjaan perlu membuat aturan yang legal dan ketat soal jam kerja, agar
menghindari hal-hal seperti diatas
-
Konflik
Konflik ini
terjadi pada tanggal 27 Oktober 2012 hingga 29 Oktober 2012. Yang menjadi
penyebab konflik adalah saat ada dua gadis yang berasal dari Desa Agom diganggu
oleh sekelompok pemuda yang berasal dari desa Balinuraga. Kedua gadis ini
sedang naik sepeda motor kemudian diganggu hingga kedua terjatuh dan mengalami
luka-luka. Sontak kejadian ini memicu amarah dari warga desa Agom. Mereka
kemudian mendatangi Desa Balinuraga yang mayoritas beretnis Bali dengan membawa
sajam dan senjata. Bentrok pun tak terhindarkan hingga menewaskan total 10 orang.
Solusinya:
Perlu
kedewasaan dalam menyikapi hal-hal seperti ini, alangkah baiknya kedua pihak
menyelesaikan masalah ini dengan kepala dingin
2. Komunikasi Dalam Manajemen
A.
Komunikasi
Komunikasi
adalah kegiatan pengoperan lambang yang mengandung arti/makna yang perlu
dipahami bersama oleh pihak yang terlibat dalam kegiatan komunikasi
(Astrid)
B.
Proses Komunikasi
Proses
komunikasi adalah bagaimana komunikator menyampaikan pesan kepada komunikannya,
sehingga dapat menciptakan suatu persamaan makna antara komunikan dengan
komunikatornya. Proses komunikasi ini bertujuan untuk menciptakan komunikasi
yang efektif (sesuai dengan tujuan komunikasi pada umumnya). Proses komunikasi
termasuk juga suatu proses penyampaian informasi dari satu pihak ke pihak lain
dimana seseorang atau beberapa orang, kelompok, organisasi dan masyarakat
menciptakan dan menggunakan informasi agar terhubung dengan lingkungan dan
orang lain. Komunikasi berasal dari bahasa latin communis yang berarti sama.
Communico, communicatio atau communicare yang berarti membuat sama. Secara
sederhana komunikasi dapat terjadi apabila ada kesamaan antara penyampaian
pesan dan orang yang menerima pesan. Pada umumnya komunikasi dilakukan secara
lisan atau verbal yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. Apabila tidak
ada bahasa verbal yang dapat dimengerti oleh keduanya, komunikasi masih dapat
dilakukan dengan menggunakan gerak-gerik badan, dan menunjukkan sikap tertentu
seperti tersenyum, mengangkat bahu dan sebagainya. Komunikasi ini disebut
komunikasi nonverbal. Proses komunikasi bertujuan untuk menciptakan komunikasi
yang efektif (sesuai dengan tujuan komunikasi pada umumnya). Proses komunikasi
dapat terjadi apabila ada interaksi antar manusia dan ada penyampaian pesan
untuk mewujudkan motif komunikasi. Melalui komunikasi sikap dan perasaan
seseorang atau sekelompok orang dapat dipahami oleh pihak lain.
1. Komunikator
Komunikator adalah pihak yang bertindak sebagai pengirim pesan dalam sebuah
proses komunikasi.Dengan kata lain, komunikator merupakan seseorang atau
sekelompok orang yang berinisiatif untuk menjadi sumber dalam sebuah
hubungan.Seorang komunikator tidak hanya berperan dalam menyampaikan pesan
kepada penerima, namun juga memberikan respons dan tanggapan, serta menjawab
pertanyaan dan masukan yang disampaikan oleh penerima, dan publik yang terkena
dampak dari proses komunikasi yang berlangsung, baik secara langsung maupun
tidak langsung.
2. Pesan
Pesan adalah setiap pemberitahuan, kata, atau komunikasi
baik lisan maupun tertulis, yang dikirimkan dari satu orang ke orang lain.Pesan
menjadi inti dari setiap proses komunikasi yang terjalin pesan terbagi menjadi
dua, yakni pesan verbal dan non-verbal. Pesan verbal adalah jenis pesan yang
penyampaiannya menggunakan kata-kata, dan dapat dipahami isinya oleh penerima
berdasarkan apa yang didengarnya.Sedangkan, pesan non-verbal adalah jenis pesan
yang penyampaiannya tidak menggunakan kata-kata secara langsung, dan dapat
dipahami isinya oleh penerima berdasarkan gerak-gerik, tingkah laku, mimik
wajah, atau ekspresi muka pengirim pesan.Pada pesan non-verbal mengandalkan
indera penglihatan sebagai penangkap stimuli yang timbul
3. Penerima
Penerima adalah pihak yang memperoleh pesan atau
stimulus yang dikirmkan oleh sumber. Stimulus yang diterima tersebut dapat
terdiri dari beraneka ragam bentuk, seperti kata-kata, tulisan, gerak-gerik,
mimik muka, ekspresi wajah, sentuhan, aroma, serta perbuatan atau tingkah laku
lawan bicara.Selanjutnya, peran penerima adalah mencerna dan menanggapi
stimulus tersebut dengan mendengar, melihat, membau, atau merasakan.Secara
garis besar, penerima dapat terbagi menjadi penerima aktif dan penerima
pasif.Penerima pasif adalah orang yang hanya menerima stimulus yang datang kepadanya,
tanpa memberikan tanggapan serta umpan balik (feedback).Sedangkan, penerima
aktif adalah orang yang tidak saja menerima stimulus yang datang kepadanya,
tetapi juga memberikan tanggapan atau feedback secara aktif (berkelanjutan)
kepada pengirim.
4. Feedback
Balikan adalah isyarat atau tanggapan yang berisi
kesan dari penerima pesan dalam bentuk verbal maupun nonverbal. Tanpa balikan
seorang pengirim pesan tidak akan tahu dampak pesannya terhadap sipenerima
pesan Hal ini penting bagi manajer atau pengirim pesan untuk mengetahui apakah
pesan sudah diterima dengan pemahaman yang benar dan tepat. Balikan dapat
disampaikan oleh penerima pesan atau orang lain yang bukan penerima pesan.
Balikan yang disampaikan oleh penerima pesan pada umumnya merupakan balikan
langsung yang mengandung pemahaman atas pesan tersebut dan sekaligus merupakan
apakah pesan itu akan dilaksanakan atau tidak
C.
Hambatan Komunikasi
1.
Hambatan
dari Proses Komunikasi
Hambatan dari pengirim pesan, misalnya
pesan yang akan disampaikan belum
jelas bagi dirinya atau pengirim pesan, hal ini dipengaruhi oleh perasaan atau situasi emosional dan
hambatan dalam penyandian/simbol.
2.
Hambatan
Fisik
Hambatan fisik dapat mengganggu komunikasi
yang efektif, cuaca gangguan alat
komunikasi, dan lain lain, misalnya: gangguan kesehatan, gangguan alat komunikasi dan
sebagainya.
3.
Hambatan
Semantik
Kata-kata yang dipergunakan dalam
komunikasi kadang-kadang mempunyai
arti mendua yang berbeda, tidak jelas atau berbelit-belit antara pemberi pesan dan penerima.
4.
Hambatan
Psikologis
Hambatan psikologis dan sosial
kadang-kadang mengganggu komunikasi, misalnya; perbedaan nilai-nilai serta
harapan yang berbeda antara pengirim dan penerima pesan.
D.
Komunikasi Interpersonal efektif
dalam organisasi
Komunikasi
dapat dikatakan efektif apa bila komunikasi yang di lakukan dimana:
- Pesan dapat
diterima dan dimengerti serta dipahami sebagaimana yang dimaksud oleh
pengirimnya.
- Tidak ada hambatan
yang berarti untuk melakukan apa yang seharusnya dilakukan untuk menundak
lanjuti pesan yang dikirim.
Komunikasi interpersonal efektif
adalah komunikasi yang terkandung dalam tatap muka dan saling mempengaruhi,
mendengarkan, menyampaikan pernyataan, keterbukaan, kepekaan yang merupakan
cara paling efektif dalam mengubah sikap, pendapat dan perilaku seseorang
dengan efek umpan balik secara langsung.
Secara sederhana, komunikasi adalah
proses penyampaian atau transfer dan pemahaman suatu pengertian (meaning). Jadi
dalam berkomunikasi, kita harus efektif menyampaikan pesan yang ada pada kita
kepada orang lain. Adapun berkomunikasi secara langsung dan sesuai dengan pesan
yang ingin disampaikan kepada orang lain. Karena dapat mengubah sikap, pendapat
dan perilaku seseorang dengan efek umpan balik secara langsung. Proses
berkomunikasi dimulai dari adanya pesan yang akan disampaikan oleh pengirim,
kemudian ditransfer melalui suatu channel (saluran), kemudian diterima oleh
penerima. Adapun komunikasi interpersonal efektif dalam suatu organisasi
mencakup dua bagian yaitu componential dan situational.
1. Componential
Menjelaskan komunikasi antar pribadi
dengan mengamati komponen-komponen utamanya, dalam hal ini adalah penyampaian
pesan oleh satu orang dan penerimaan pesan oleh orang lain dengan berbagai
dampaknya dan dengan peluang untuk memberikan umpan balik dengan segera.
2. Situasional
Interaksi tatap muka antara dua
orang dengan potensi umpan balik langsung dengan situasi yang mendukung
disekitarnya.
E. Pengolahan Informasi dalam Komunikasi
Model Pengolahan Informasi ;
rational, limited capacity, expert, dan cybermatic.
Model-model Pengolahan Informasi
pada dasarnya menitikberatkan pada cara-cara memperkuat dorongan-dorongan
internal (datang dari dalam diri) manusia untuk memahami dunia dengan cara
menggali dan mengorganisasikan data, merasakan adanya masalah dan mengupayakan
jalan pemecahannya, serta mengembangkan bahasa untuk
mengungkapkannya. Model Pengolahan informasi berorientasi pada :
-
Proses
Kognitif
-
Pemahaman
Dunia
-
Pemecahan
Masalah
-
Berpikir
Induktif
F. Model Interaktif Manajemen dalam Komunikasi
1.
Confidence
Dalam manajemen timbulnya suatu interaksi karena
adanya rasa nyaman. Kenyamanan
tersebut dapat membuat suatu organisasi bertahan
lama dan menimbulkan suatu kepercayaan dan pengertian.
2.
Immediacy
Ini adalah model organisasi yang membuat
suatu organisasi tersebut menjadi
segar dan tidak membosankan
3.
Interaction
management
Adanya berbagai interaksi dalam manajemen
seperti mendengarkan dan juga
menjelaskan kepada berbagai pihak yang bersangkutan
4.
Expressiveness
Mengembangkan suatu komitmen dalam suatu
organisasi dengan berbagai macam
ekspresi perilaku.
5.
Other-orientation
Daftar Pustaka
Brealey, Erika. 2002. Seri 10
Menit Menghilangkan Stres (terjemahan Sara C.Simanjuntak). Batam :
Karisma Publishing Group
Cooper Cary & Straw Alison,
1995. Stress Management Yang Sukses. Jakarta: Kesain Blanc
Louis R. Pondy, “Organizational
Conflict: Concepts and Models” dalam Harold J. Leavitt,
Louis R. Pondy, and David M. Boje,
eds., Readings in Managerial Psychology , 4th Edition (Chicago: The
University of Chicago Press, 1989), p.525-30.
Page, N., & Czuba, E. C. (1999,
Oktober). Empowerment: What Is It? Journal of Extension, 37(5), http://www.joe.org/joe/1999october/comm1.php