“Aku punya band, aku harus ngapain ya?”
Sebuah pertanyaan yang lumayan sering ditanyakan ke gue belakangan ini. Menarik.
Tapi ya jawabannya kembali ke si penanya, mau dibawa kemana band nya?
Nah ini postingan pertama gue di sini, dalam kesempatan ini gue mau bahas sedikit tentang suatu hal yang dinamakan ego.
Sering sekali gue denger curhatan seorang fans, dia punya band, tapi di dalam band tersebut susah banget menyatukan kepala mereka, semua egonya besar sekali.
Well, ego itu gak selamanya hal yang buruk. Ego yang nyetir seseorang untuk menjadi seperti apa yang dia mau. Bisa dibilang, ego ini bahan bakar untuk terus berjalan.
Tentu saja, ego yang berbeda arahnya pasti juga berbeda. Itulah kenapa kapal cuma ada 1 nahkoda. Begitu juga idealnya sebuah band.
Atau gampangnya gini deh, pernah kepikiran gak kenapa motor setirnya cuma satu? Ya bayangin aja kalau setirnya ada dua, gak akan nyampe-nyampe tuh apalagi kalo masing-masing yg nyetir beda tujuan.
Cari 1 orang dengan ego yang paling besar dalam band, tunjuk dia menjadi nahkoda. Band itu sebuah team, dan sekali lagi, team butuh pemimpin.
Kenapa butuh pemimpin?
Sebuah band tanpa pemimpin biasanya tidak ada ambisi.
Band yang berjalan dengan system total demokrasi alias semua berdasarkan voting terbanyak untuk mengambil keputusan biasanya akan berahir stagnan dan lambat pergerakannya.
Logikanya seperti ini. Ada 10 orang di dalam kelas, diantaranya ada 2 murid pintar, yang lainnya rata-rata. Kalau voting dan mayoritas tidak setuju dengan suara minoritas, belum tentu keputusan yang diambil adalah keputusan yang bijak, bukan?
Pemimpin harus bisa mengambil keputusan.
Pemimpin gak harus yang paling jago main alat musik. Tapi balik lagi ya, band itu kumpulan orang yang bermain musik, jadi ambisi saja tidak cukup, bakat jangan lupa diasah. Berlatih dan berlatih.
Seorang pemimpin harus professional.
Perlu di ingat bahwa bermusik adalah karir dengan tantangan yang sangat besar yang membutuhkan banyak pengetahuan, bertahun-tahun latihan, disiplin, kreatif, dan kemampuan berorganisasi. Untuk dihargai, seorang pemimpin harus punya sifat professional. Tepat waktu, organized, dan siap menghadapi masalah.
Seorang pemimpin harus punya kesabaran.
Membutuhkan banyak waktu untuk mencapai impian dalam sebuah band, kalau grasak-grusuk cepet capek dan akhirnya cepet nyerah juga. Sabar. Nikmatin perjalanan dari sebuah band. Banyak berlatih, ciptakan suasana nyaman dalam sebuah band. Latihan, latihan, dan latihan.
Seorang pemimpin harus punya rasa hormat.
Seperti halnya dalam sebuah hubungan, semua ekspektasi harus dibahas. Ingat bahwa setiap musisi punya bakat, ide, personal goal, dan gairah yang berbeda. Biarkan itu berkembang. Sikap menghargai ini akan membuat band penuh dengan energi positif dan ide yang segar. Berikan motivasi.
Seorang pemimpin harus bisa berpikiran terbuka.
Gaya berfikir orang pasti berbeda. Adain sesi brainstorm. Bertukar pikiran, lihat dari perspektif yang berbeda. Biarkan semua berkontribusi. Dan pada akhirnya, ambil keputusan.
Seorang pemimpin harus bisa melihat gambar besar.
Tentukan arahnya mau kemana, lihat gambar keseluruhannya tapi jangan luput hal kecil yang mesti diperhatikan. Pay attention to small details. Pada akhirnya seorang pemimpin harus bisa mewujudkan, menjelaskan konsep, dan tentukan apa yang harus dilakukan kedepannya.
Kadang kewajiban pemimpin terlalu banyak, yang berikutnya harus dimiliki seorang pemimpin adalah kemampuan untuk mendelegasi.
Seorang pemimpin juga harus sadar diri, bahwa sebuah band bukan mesin, dan pemimpin bukan seorang dictator. Walaupun kadang tidak setuju dengan pendapat yang lain, at least dukung pendapatnya dan ingat, perlakukan orang sebagaimana lo mau diperlakukan.
Nah, jadi kalo punya band, sekarang tunjuk siapa yang jadi pemimpinnya. Ingat, nahkoda kapal itu 1, dan masakan juga rasanya akan aneh dan tidak enak kalau juru masaknya banyak.
Reverensi : http://ngapainaja.com/komunitas/band-101/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar