Nama : Nugroho
Tri Hutomo
Kelas : 1PA15
NPM : 18514113
Dosen : Bpk
Sudjiran
Tugas : Makalah
IBD (5)
5.1 Keindahan
Kata keindahan berasal dari kata
indah, artinya bagus, permai, cantik, elok, molek, dan sebagainya. Benda yang mempunyai
sifat indah adalah segala hasil seni, pemandangan alam, manusia, rumah,
tatanan, perabot rumah tangga, suara, warna dan sebagainya. Kawasan keindahan
bagi manusia sangat luas, seluas keanekaragaman manusia dan sesuai pula dengan
perkembangan peradaban teknologi, sosial, dan budaya. Karena itu keindahan
dapat dikatakan, bahwa keindahan merupakan bagian hidup manusia. Keindahan tak
dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Dimanapun kapanpun dan siapa saja
dapat menikmati keindahan.
Keindahan adalah identik dengan
kebenaran. Keindahan kebenaran dan kebenaran adalah keindahan. Keduanya
mempunyai nilai yang sama yaitu abadi, dan mempunyai daya tarik yang selalu
bertambah. Yang tidak mengandung kebenaran berarti tidak indah. Karena itu
tiruan lukisan Monalisa tidak indah, karena dasarnya tidak benar.
·
Apakah
Keindahan Itu?
Keindahan itu suatu konsep
abstrak yang tidak dapat dinikmati karena tidak jelas. Keindahan itu baru jelas
jika telah dihubungkan dengan sesuatu yang berwujud atau suatu karya. Dengan kata
lain, keindahan itu baru dpat dinikmati jika dihubungkan dengan suatu bentuk.
Dengan bentuk itu keindahan dapat berkomunikasi. Jadi sulit bagi kita jika
berbicara mengenai keindahan, tetapi jelas bagi kita jika berbicara mengenai
sesuatu yang inda. Keindahan hanya sebuah konsep, yang baru berkomunikasi
setelah mempunyai bentuk, misalnya lukisan, pemandangan alam, tubuh yang molek,
film, dan nyanyian. Pengertian keindahan yang seluas-luasnya meliputi:
1. Keindahan
seni
2. Keindahan
alam
3. Keindahan
moral
4. Keindahan
intelektual
·
Nilai
Estetik
Dalam rangka teori umum tentang
nilai The Liang Gie menjelaskan bahwa pengertian keindahan dianggap sebagai
salah satu jenis nilai seperti halnya nilai moral, nilai ekonomik, nilai
pendidikan dan sebagainya. Nilai yang berhubungan dengan segala sesuatu yang
tercakup dalam pengertian keindahan disebut nilai estetik.
Masalahnya sekarang ialah: apakah
nilai estetik itu? Dalam bidang filsafat, istilah nilai seringkali dipakai
sebagai suatu kata benda abstrak yang berarti keberhargaan (worth) atau
kebaikan (goodness).
Tentang nilai itu ada yang
membedakan antara nilai subyektif dan nilai obyektif, atau ada yang membedakan
nilai perseorangan dan nilai kemasyarakatan. Tetapi penggolongan yang penting
adalah nilai ekstrinsik dan nilai intstrinsik.
Nilain ekstrinsik adalah sifat
baik dari suatu benda sebagai alat atau sarana untuk sesuatu hal lainnya
(instrumental/contributory value), yakni nilai yang bersifat sebagai alat atau
membantu. Nilai instrinsik adalah sifat baik dari benda yang bersangkutan, atau
sebagai suatu tujuan, ataupun demi kepentingan benda itu sendiri.
·
Kontemplasi
dan Ekstansi
Keindahan dapat dinikmati menurut
selera seni dan selera biasa. Keindahan yang didasarkan pada selera seni
didukung oleh faktor kontemplasi dan ekstansi. Kontemplasi adalah dasar dalam
diri manusia untuk menciptakan sesuatu yang indah. Ekstansi adalah dasar dalam
diri manusia untuk menyatakan, merasakan, dan menikmati sesuatu yang indah.
Apabila kedua dasar ini dihubungkan dengan bentuk di luar diri manusia, maka
akan terjadi penilaian bahwa sesuatu itu indah. Sesuatu yang indah itu memikat
atau menarik perhatian orang yang melihat, mendengar. Bentuk diluar diri
manusia itu berupa karya budaya yaitu karya seni lukis, seni suara, seni tari, atau
berupa ciptaan Tuhan misalnya pemandangan alam, bunga warna-warni dan
lain-lain.
5.2 Renungan
Renungan berasal dari kata
renung: artinya diam-diam memikirkan sesuatu, atau memikirkan sesuatu dengan
dalam-dalam. Renungan adalah hasil merenung. Dalam merenung untuk menciptakan
seni ada beberapa teori. Teori-teori itu adalah:
1. Teori
pengungkapan.
2. Teori
metafisik.
3. Teori
psikologik.
5.3 Keserasian
Keserasian berasal dari kata
serasi dan dari kata dasar rasi, artinya cocok, kena benar dan sesuai benar.
Kata cocok, kena dan sesuai itu mengandung unsur perpaduan, pertentangan,
ukuran dan seimbang.
Dalam pengertian perpaduan
misalnya, orang berpakaian harus dipadukan warnanya bagian atas dengan bagian
bawah. Atau disesuaikan dengan kulitnya. Apabila cara memadu itu kurang cocok,
maka akan merusak pemandangan. Sebaliknya, bila serasi benar akan membuat orang
puas karenanya. Dalam keserasian ada beberapa teori yaitu:
1. Teori
obyektif dan Teori Subyektif
2. Teori
Perimbangan.
Daftar
Pustaka
Nugroho, Widyo., & Achmad Muchji. (1996). Seri Diktat Kuliah MKDU Ilmu Budaya Dasar, Jakarta:
Penerbit Gunadarma.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar