Nama : Nugroho
Tri Hutomo
Kelas : 1PA15
NPM : 18514113
Dosen : Bpk
Sudjiran
Tugas : Makalah
IBD (3)
3.1 Pendekatan
Kesustraan
IBD, yang semula dinamakan Basic
Humanities, berasal dari bahasa Inggris The Humanities. Istilah ini berasal
dari bahasa latin Humanus, yang berarti manusiawi, berbudaya, dan halus. Dengan
mempelajari the humanities orang akan menjadi lebih manusiawi, lebih berbudaya
dan lebih halus. Jadi the humanities berkaitan dengan masalah nilai, yaitu
nilai kita sebagai homo humanus.
Untuk menjadi homo humanus,
manusia harus mempelajari ilmu, yaitu the humanities, disamping tanggung
jawabnya yang lain. Apa yang dimasukkan kedalam the humanities masih dapat
diperdebatkan, dan kadang-kadang disesuaikan dengan keadaan dan waktu. Pada
umumnya the humanities mencakup filsafat, teologi, seni dan cabang-cabangnya
termasuk sastra, sejarah, cerita rakyat, dan sebagainya. Pada pokoknya semua
mempelajari masalah manusia dan budaya. Karena itu ada yang menterjemahkan
menjadi pengetahuan budaya. Hampir di setiap jaman, seni termasuk sastra
memegang peranan yang penting dalam the humanities. Ini terjadi karena seni
merupakan ekspresi nilai-nilai kemanusiaan, dan bukannya formulasi nilai-nilai
kemanusiaan seperti yang terdapat dalam filsafat atau agama. Dibanding dengan
cabang the humanities yang lain, seperti misalnya ilmu bahasa, seni memegang
peranan yang penting, karena nilai-nilai kemanusiaan yang disampaikannya
normatif.
Karena seni adalah ekspresi yang
sifatnya tidak normatif, seni lebih mudah berkomunikasi. Karena tidak normatif,
nilai-nilai yang disampaikannya lebih fleksibel, baik isinya maupun cara
penyampaiannya.
Hampir disetiap jaman, sastra
mempunyai peranan yang lebih penting. Alasan pertama, karena sastra
mempergunakan bahasa. Sementara itu, bahasa mempunyai kemampuan untuk menampung
hampir semua pernyataan kegiatan manusia. Dalam usahanya untuk memahami dirinya
sendiri, yang kemudian melahirkan filsafat, manusia mempergunakan bahasa. Dalam
usahanya untuk memahami alam semesta, yang kemudian melahirkan ilmu pengetahuan,
manusia mempergunakan bahasa. Dalam usahanya untuk mengatur hubungan antara
sesamanya yang kemudian melahirkan ilmu-ilmu sosial, manusia mempergunakan
bahasa. Dengan demikian, manusia dan bahasa pada hakekatnya adalah satu.
Kenyataan inilah mempermudah sastra berkomunikasi.
IBD adalah salah satu mata kuliah
yang diberikan dalam satu semester, sebagai bagian dari MKDU. IBD tidak
dimaksudkan untuk mendidik ahli-ahli dalam salah satu bidang keahlian yang
termasuk didalam pengetahuan budaya (The Humanities). Akan tetapi IBD
semata-mata sebagai salah satu usaha mengembangkan kepribadian mahasiswa dengan
cara memperluas wawasan pemikiran serta kemampuan kritikalnya terhadap
nilai-nilai budaya. Pada waktu menggunakan karya sastra, misalnya mahasiswa
tidak perlu mengetahui sejarah sastra, teori sastra, kritik sastra dan
sebagainya. Memang seperti cabang-cabang the humanities lainnya, dalam IBD
sastra tidak diajarkan sebagai salah satu disiplin ilmu. Sastra disini
digunakan sebagai alat untuk membahas masalah-masalah kemanusiaan yang dapat
membantu mahasiswa untuk menjadi lebih humanus. Demikian juga filsafat, musik,
seni rupa, dan sebagainya.
Orientasi the Humanities adalah
ilmu: dengan mempelajari satu atau sebagian dari disiplin ilmu yang tercakup
dalam the humanities, mahasiswa diharapkan dapat menjadi homo humanus yang
lebih baik.
3.2 Ilmu Budaya Dasar yang Dihubungkan dengan Prosa.
Istilah prosa banyak padanannya.
Kadang-kadang disebut narrative fiction, prose fiction atau hanya fiction saja.
Dalam bahasa Indonesia istilah tadi sering diterjemahkan menjadi cerita rekaan
dan didefinisikan sebagai bentuk cerita atau prosa kisahan yang mempunyai
pemeran, lakuan, peristiwa dan alur yang dihasilkan oleh daya khayal atau
imajinasi. Istilah cerita rekaan umumnya dipakai untuk roman, atau novel, atau
cerita pendek.
Dalam kesustraan Indonesia kita
mengenal jenis prosa lama dan prosa baru.
·
Prosa lama meliputi
1. Dongeng-dongeng
2. Hikayat
3. Sejarah
4. Epos
5. Cerita
pelipur lara
·
Prosa baru meliputi
1. Cerita
pendek
2. Roman/novel
3. Biografi
4. Kisah
5. Otobiografi
3.3 Nilai-nilai
Dalam Prosa
Sebagai seni yang bertulang punggung cerita, mau tidak
mau karya sastra (prosa fiksi) langsung atau tidak langsung membawakan moral,
pesan atau cerita. Dengan perkataan lain prosa mempunyai nilai-nilai yang
diperoleh pembaca lewat sastra. Adapun nilai-nilai yang diperoleh pembaca
sastra antara lain:
1. Prosa
fiksi memberikan kesenangan
2. Prosa
fiksi memberikan informasi
3. Prosa
fiksi memberikan warisan kultural
4. Prosa
fiksi memberikan keseimbangan wawasan
Berkenaan dengan moral, karya
sastra dapat dibagi menjadi dua: Karya sastra yang menyuarakan aspirasi
jamannya, dan karya sastra yang menyuarakan gejolak jamannya. Ada juga yang
menyuarakan kedua-duanya.
Karya sastra yang menyuarakan
aspirasi jamannya mengajak pembaca untuk mengikuti apa yang dikehendaki
jamannya. Kebanyakan karya sastra Indonesia di jaman Jepang yang dikelompokkan
kedalam kelompok ini.
Karya sastra yang menyuarakan
gejolak jamannya, biasanya tidak mengajak pembaca untuk melakukan sesuatu, akan
tetapi untuk merenung.
Dalam dongeng terdapat bentuk
epos yang berarti cerita kepahlawanan atau wira carita. Kita kenal Mahabarata
dan Ramayana. Mahabarata menceritakan kepahlawanan orang-orang pandawa yang
dengan gagah berani mempertahankan kebenaran karena rasa tanggung jawab
terhadap negara. Tokoh Bima, Arjuna, Gatotkaca didalam cerita itu selalu
mempunyai rasa tanggung jawab pada bangsa dan negaranya.
3.4 Ilmu Budaya
Dasar yang Dihubungkan Dengan Puisi
Puisi termasuk seni sastra,
sedangkan sastra bagian dari kesenian, dan kesenian cabang/unsur dari
kebudayaan. Kalau diberi batasan, maka puisi adalah ekspresi pengalaman jiwa
penayir mengenai kehidupan manusia, alam, dan Tuhan melalui media bahasa yang
artistik/estetik, yang secara padu dan utuh dipadatkan kata-katanya.
Kepuitisan, keartistikan atau
keestetikaan bahasa puisi disebabkan oleh kreativitas penyair dalam membangun
puisinya dengan menggunakan:
1. Figura
bahasa (figurative language) seperti gaya personifikasi, metafora,
perbandingan, alegori, dsb. Sehingga puisi menajdi segar, hidup, menarik dan
memberi kejelasan gambaran angan.
2. Kata-kata
yang ambiquitas yaitu kata-kata yang bermakna ganda, banyak tafsir.
3. Kata-kata
berjiwa yaitu kata-kata yang sudah diberi suasana tertentu, berisi perasaan dan
pengalaman jiwa penyair sehingga terasa hidup dan memukau.
4. Kata-kata
konotatif yaitu kata-kata yang sudah diberi tambahan nilai-nilai rasa dan
asosiasi-asosiasi tertentu.
5. Pengulangan,
yang berfungsi untuk mengintensifkan hal-hal yang dilukiskan, sehingga lebih
menggugah hati.
Adapun alasan-alasan yang mendasari penyajian puisi pada
perkuliahan Ilmu Budaya Dasar adalah sebagai berikut:
1. Hubungan
puisi dengan pengalaman hidup manusia.
2. Puisi
dan keinsyafan/kesadaran individual.
3. Puisi
dan keinsyafan sosial.
Puisi-puisi umumnya sarat akan
nilai-nilai etika, estetika dan juga kemanusiaan. Salah satu nilai kemanusiaan
yang banyak mewarnai puisi-puisi adalah cinta kasih (yang terpaut didalamnya
kasih sayang, cinta, kemesraan dan renungan).
Rendra dengan puisinya “episode”
misalnya, melukiskan betapa kemesraan cinta begitu merasuk kedalam jiwa dua
sejoli muda-mudi yang sedang menjalin cinta.
Kami
duduk berdua
Dibangku
halama rumah
Pohon
jambu dihalaman itu
Berbuah
dengan lebatnya
Dan kami
sedang memandangnya
Angin
yang lewat
Memainkan
daun yang berguguran
Tiba-tiba
ia bertanya:
“mengapa
sebuah kancing bajumu lepas terbuka?”
Aku
hanya tertawa
Lalu ia
sematkan dengan mesra
Sebuah
peniti menutup bajuku
Sementara
itu
Aku
bersihkan
Guguran
bunga jambu
Yang
mengotori rambutnya.
Daftar Pustaka
Nugroho, Widyo., & Achmad
Muchji. (1996). Seri Diktat Kuliah MKDU
Ilmu Budaya Dasar, Jakarta: Penerbit Gunadarma.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar